Proses Pendidikan Sholat 5 Waktu
Sholat adalah bagian terpenting dari Islam, adalah kewajiban orang tua untuk mengajarkan setiap anak-anaknya agar mereka taat dalam mendirikan sholat tersebut. Dalam kesempatan tulisan ini saya akan share bagaimana kami mendidik anak kami Hamzah bisa mendirikan sholat 5 waktu.
Sebagai gambaran awal, ALHAMDULILLAH dan dengan izinnya anak kami Hamzah telah mampu menunaikan sholat 5 waktu secara berjamaah tanpa terputus 1 haripun dari hari keharinya hingga tulisan ini ditulis diusianya yang masih 6,5 tahunan. Jika dihitung dia sudah mampu melaksakannya selama 4 bulan penuh tanpa terputus seharipun. Kami beedoa semoga Allah menetapkan hatinya untuk membawa kebiasaan tersebut hingga akhir hayatnya dan mewariskannya kepada keturunan2nnya sebagaimana kami telah mengajarinya untuk mengenal ALLAH.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah "Apakah Hamzah secara instan langsung bisa dan mau melaksakan sholat 5 waktu dalam waktu singkat?" Jawabannya TIDAK. Ada beberapa proses yang kami lalui sehingga Allah berkenan melunakkan hatinya dan mau melaksanakan sholat. Lalu bagaimana dan apa saja ikhtiar yang telah kami lakukan?
Sebelum masuk pada ikhtiar2 yang telah kami lakukan yang mampu mengantarkan anak kami (Hamzah) mendirikan sholat, ada beberapa hal penting untuk diingat. Hal itu adalah:
1. Keberhasilan kami mendidik anak kami adalah MUTLAK atas IZIN ALLAH.
2. Usaha yang akan kami share bukanlah jalan satu2nya yang bisa mengantarkan anak bisa mendirikan sholat.
Baik kita masuk pada ikhtiar apa saja yang telah kami lakukan. Saya membaginya menjadi 2:
1. Tahap persiapan
2. Tahap proses pendidikan.
a. Berdoa kepada ALLAH agar dikaruniai anak yang sholeh/sholehah.
Siapa saja yang berdoa?
Sang Orang Tua
Mintalah pada Allah agar Dia menitipkan anak yang sholeh/sholehah pada diri kita. Berdoalah sesering mungkin dan jika perlu setiap hari, baik anak itu belum lahir, dalam kandungan, atau sudah lahir. Karena dengan doa semua bisa terjadi jika ALLAH sudah memperkenankan doa kita.
Orang Lain
Mintalah orang lain mendoakan diri kita. Jangan sekali-kali menganggap rendah seseorang karena kita tidak pernah tahu dari mulut siapa doa kita akan terkabul. Karena bisa jadi, orang yang kita anggap rendah justru dari mulutnya bisa jadi doa yang kita minta terkabul dan sebaliknya. Mintalah sebanyak mungkin pada orang yang tidak anda kenal sekalipun untun mendoakan anda.
Kapan waktu yang tepat?
Saya merekomendasikan INCAR bulan RAMADHAN untuk berdoa sekhusuk mungkin untuk permintaan ini. Ketika sudah dalam bulan Ramadhan mintalah pada waktu yang mustajabah yakni setelah SHOLAT TAHAJJUD. Lakukan sebanyak mungkin yang bisa anda lakukan dalam bulan Ramadhan syukur jika bisa melaksanakan sebulan penuh.
Untuk selain bulan Ramadhan lakukan hal yang sama seperti bulan Ramadhan. Meski tingkat intensitasnya mungkin akan meredup tidak seperti di bulan Ramadhan.
b. Hindari Makanan HARAM
Jangan sekali-kali anda mencoba memberikan nafkah dari jalan yang diHARAMkan ALLAH. Mengapa? Jawaban secara spiritual, makanan haram itu akan menghasilkan sel-sel yang akan memiliki kecondongan menentang perintah ALLAH. Sehingga ini akan menjadi GANJALAN BESAR ketika anda mengajarkan ketaatan pada ALLAH karena dalam tubuhnya banyak SEL-SEL HARAM yang reaksinya senantiasa menolak perintah2 tersebut.
Jika anda tidak mampu menghindar 100%, setidaknya TUNJUKKAN PENOLAKAN terhadap sesuatu yang diharamkan itu tidak layak untuk diterima. Jangan malah menunjukkan sikap MENIKMATI.
c. Kerja Sama yang Baik antara Suami-Istri
Buat ritme dan pemahaman yang sama dalam mendidik anak, jangan sampai memiliki pandangan yang berbeda antara pasangan suami-istri dalam mengajarkan anak atas perintah Allah.
Saya (suami) memainkan peran TEGAS terhadap anak, ketegasan saya bisa berujung pada pemukulan pada diri anak. Tapi jangan dibayangkan pemukulan yang saya lakukan dilakukan secara brutal dan tidak terarah. Konsep pemukulan ini saya belajar dari ortu saya dimana untuk memukul harus menggunakan benda (jika menggunakan benda) yang menyakiti secara fisik tapi tidak melukai atau tidak mengakibatkan cidera pada diri anak. Dan sasaran dari pemukulan itu bukan anggota tubuh yang vital seperti kepala, mata, telinga, kemaluan, dada, dll.
Terkesan sadis, tapi cukup efektif untuk jangka panjang. Dan sosok ayah yang TEGAS (berwibawa) harus tertangkap oleh anak, sehingga jika sang Ibu sudah diremehkan anak maka sang Ibu memiligi "bodyguard" untuk menghadapi sang anak. Jika anak tidak menangkap sosok ayah yang TEGAS, akibat jangka panjangnya adalah kedua orang tua tersebut akan diremehkan.
Meski tegas, membangun hubungan dengan keceriaan dengan anak harus lebih banyak porsinya.
Sedang Ibu, melaksanakan segala amanah yang dibebankan suami dalam mengurus anak di rumah. Pada pembahasan berikutnya peran Ibu penentu keberhasilan proses pendidikan yang sedang berlangsung.
Perkenalkan lantunan/murotal Al Qur'an, jauhi teori2 yang mengatakan anak akan menjadi cerdas karena musik. Dalam hal ini tidak perlu diperdebatkan tentang teori2 musik untuk anak, karena dalam pandangan saya jika saya memperkenalkan musik sejak dalam kandungan itu artinya saya telah berinvestasi anak untuk menyukai musik. Dan sebaliknya jika saya memperdengarkan murotal Al Qur'an maka saya berinvestasi anak untuk menyukai AL Qur'an.
b. Sudah lahir
Tunaikan semua kewajiban yang diminta ALLAH mulai dari kumandang Azan dan Iqamah ditelinganya, memberi nama yang BAIK, dan Aqiqah dengan hewan terbaik bukan termurah (minimal sedang).
c. Pengasuhan (0-3 th)
Jika anda sibuk bekerja, jangan sembarangan menyerahkan anak anda pada sembarang orang. Pilih orang yang menegakkan sholat dalam rumahnya. Dalam keyakinan saya, ada perbedaan antara rumah yang penghuninya menegakkan sholat dengan tidak menegakkan sholat (saya tidak perlu menjelaskan perbedaan itu karena sudah cukup jelas). Sehingga dari perbedaan itu saya tidak ingin mempengaruhi anak kami selama dalam masa pengasuhan. Inilah yang kami lakukan, kami menyerahkan masa pengasuhan ketika kami bekerja (suami-istri) kepada keluarga yang penghuninya melaksanakan sholat. Sehingga meski masih bayi anak kami akan merekam bahwa lingkungan sekitarnya adalah orang2 yang gemar sholat.
Sebisa mungkin melantunkan ayat suci Al Qur'an di telingan anak bayi tersebut secara LIVE bukan rekaman mp3. Agar dengan bacaan tersebut Allah berkenan melunakkan hati anak kita nanti ketika tumbuh besar.
3. Pengasuhan 3-3,5 th
Trial n error diajak sholat ke Mushollah/Masjid. Pada fase ini intensitasnya tidak terlalu sering, hanya sesekali saja, tujuannya untuk memperkenalkan anak kepada tempat ibadahnya. Jangan khawatir jika anak anda akan berulah didalam Masjid dan jangan merasa malu (rendah diri). Karena fitrahnya anak diusia ini memang seperti itu. Bahkan jika ada jamaah lain yang protes atas tingkah laku anak kita yang kita ajak, ABAIKAN jangan diambil hati sehingga MENGECILKAN niat kita mendidik anak untuk sholat berjamaah.
Ikutkan pada acara-acara TAHLILAN, YASINAN, dll. Dan ajak makan dari makanan yang sudah dihidangkan karena makanan yang sudah didoakan Insya ALLAH membawa BERKAH pada diri anak. Jika anda anti Tahlilan ato Yasinan abaikan saran ini.
Catatan, jika anak masih belum bisa menahan pipis ato BAB ya ortu harus tau diri dengan melapisinya dengan popok bayi yang bisa menyerap itu.
4. Pengasuhan 3,5-4,5 th
Jika pada usia ini anak sudah mampu berkomunikasi secara sederhana daftarkan anak tersebut di TPQ yang bertempat di Mushollah/Masjid. Tujuan dari treatment ini bukan pada target agar anak bisa mengaji tapi lebih kepada tujuan jangka panjang akan dicapai yakni anak terbiasa sholat di Masjid/Mushollah.
Pada saat itu saya katakan pada istri untuk disampaikan kepada guru ngajinya. Bahwa kami tidak menuntut anak kami agar bisa mengaji pada usia ini, tapi biarkan (izinkan) anak kami mengaji di sini untuk bersosialisasi dengan teman2 kampungnya.
Kenapa target saya anak bersosialisasi dengan teman kampung? Karena dengan anak didaftarkan di TPQ Mushollah/Masjid, maka anak akan memiliki jadwal rutinitas untuk pergi ke Mushollah/Masjid. Karena kami tidak menuntut harus bisa ngaji maka si anak melakukannya dengan senang. Sehingga orientasi si anak bisa jadi ke Mushollah/Masjid hanya ingin bertemu dengan temannya. Pada fase ini si anak akan memiliki banyak teman yang sudah terlebih dahulu sering sholat di Mushollah.
Dan pada fase ini anak tidak dituntut untuk ikut sholat 5 waktu alias belum ikut sholat sama sekali.
5. Pengasuhan 4,5-5,5 th (Ramadhan 1)
Pada fase ini anak mulai diajak untuk mendirikan sholat satu saja dari 5 sholat wajib. Pada fase ini saya menjadi SAKSI bahwa BULAN TERBAIK untuk mendidik anak dalam hal ibadah adalah BULAN RAMADHAN. Apa yang disampaikan ulama tentang keutamaan bulan RAMADHAN adalah bulan madrasahnya umat Islam adalah BENAR.
Pada fase ini bulan Ramadhan awal pendidikan sholat anak saya sebut RAMADHAN 1. Pada Ramadhan 1 ini saya menargetkan hanya sholat Isya berjamaah. Kenapa? Karena pada bulan Ramadhan terdapat sholat tarawih dimana teman2 mengajinya juga banyak yang ikut tarawih sehingga relatif mudah mengajak anak untuk sholat isya' plus tarawihnya.
Selama bulan Ramadhan ini kita usahakan konsisten sebulan penuh menggembleng anak sholat Isya berjamaah tanpa putus. Nah disini peran Istri bermain, ketika sang ayah tidak bisa menemani anak untuk menunaikan sholat Isya berjamaah karena kesibukan kerja. Maka sang Istri yang berperan sebagai Ibu harus memastikan sang anak tetap melaksanakan sholat Isya tersebut dengan berbagai macam cara.
Jika terjadi ketidak konsistenan antara ayah dan ibu akan memberikan celah setan untuk menguasai diri anak agar tidak melaksanakan sholat tersebut. Jadi jika perlu tindakan tegas untuk memberikan penekanan kepada anak agar mau ikut sholat maka lakukanlah tanpa keraguan. Niatkan karena ALLAH bukan karena ingin menyakiti sang anak. Jika anak anda menangins atau merengek tidak mau ikut maka lakukan berbagai macam cara agar dia mau ikut, jangan hati anda luluh terhadap rengekan sang anak. Jika hati anda luluh maka selamanya sang anak akan menggunakan cara tersebut untuk menolak proses pendidikan yang akan anda terapkan pada anak.
Dalam Ramadhan 1 yang menjadi fokus utama adalah sholat Isya, untuk yang lain sifatnya tidak harus. Jika mau ikut diajak. Jika tidak mau ya tidak dipaksa, tapi khusus Isya sang anak diupayakan tidak terputus selama masa pendidikan di Ramadhan 1.
Masih pada rentang usia ini, selepas bulan Ramadhan jika anak sudah terbiasa sholat Isya berjamaah maka pertahankan di luar bulan Ramadhan. Dari Ramadhan 1 ke Ramadhan 2, pada bulan syawal pertahankan jangan sampai terputus kebiasaan yang sudah terbentuk di Ramadhan 1. Setelah melewati Syawal saya mencoba menambahkan sholat maghrib berjamaah. Berawal cob-coba, jika hatinya mau ikut maka lakukan sesering mungkin. Sehingga tanpa terasa dari Ramadhan 1 ke Ramadhan 2 anak sudah terbiasa sholat Isya dan Maghrib berjamaah tepat waktu di Masjid/Mushollah TANPA terputus seharipun.
Pada fase pembiasaan ini, kerja sama antara Ayah dan Ibu harus bisa saling bersinergi, terutama peran Ibu ketika sang ayah tidak di rumah. Sang ibu harus bisa menggantikan posisi sang ayah yakni memastikan sang anak tetap melaksanakan sholat. Dan apabila di tengah perjalanan pembiasaan sang anak mulai berani tidak mendirikan sholat maka sang Ibu harus segera mereport perilaku tersebut kepada sang ayah dan sang ayah harus merespon hari itu juga dengan memberikan teguran (nasihat tegas) kepada sang anak agar tidak mengulanginya lagi (perilaku tidak mau sholat).
6. Pengasuhan 5,5-6,5 (Ramadhan 2)
Secara garis besar step by step pada fase ini sama seperti fase Ramadhan 1 namun yang menjadi target adalah sholat Ashar. Kenapa sholat Ashar? Karena diwaktu itulah jam saya baru pulang dari kerja, jika anda punya waktu luang banyak bisa menargetkan sholat Dzuhur terlebih dahulu itu tidak masalah. Yang terpenting salah satu diantara keduanya tercapai. Kenapa tidak sholat subuh? Nanti dibahas di fase berikutnya.
Sekali lagi sama seperti step Ramadhan 1, selama di Ramadhan 2 diupayakan sholat Ashar full tidak terputus. Setelah di luar Ramadhan 2 yakni Syawal pastikan tidak terputus sholat Asharnya, setelah itu sambil menuju Ramadhan 3, sholat Dzuhur berjamaah juga menjadi target untuk dilaksanakan oleh sang anak tanpa putus.
Untuk pembiasaan sholat Dzuhur, saya memulainya dari sholat Jum'at. Jadi ketika ada waktu libur di hari Jum'at saya sempatkan mengajak sang anak untuk sholat jum'at. Setelah itu, karena kenal beberapa teman di masjid terkadang dia terbawa dengan sendirinya oleh arus teman2nya yang asyik sholat Jum'at di masjid meski di dalamnya lebih banyak bercandanya. Peran ortu mengingatkan agar tidak ikut2an ramai di masjid.
Setelah terbiasa sholat Jum'at, maka sang ayah meminta sang anak agar melaksanakan sholat dzuhur juga melalui pengawasan sang Ibu.
7. Pengasuhan 6,5 ++ (Ramadhan 3)
Fase ini adalah puncak dari pendidikan sholat, kenapa? Karena yang tersisa adalah sholat subuh berjamaah. Karena saya telah mendengar banyak keluhan anak2 baik dari teman sejawat maupun ortu wali murid saya yang kesulitan membiasakan putranya mendirikan sholat subuh ini.
Dan inilah kehebatan bulan Ramadhan, sekali lagi saya menjadi SAKSI akan KEBERKAHAN bulan suci RAMADHAN adalah BENAR. Memanfaatkan momen sahur, awalnya saya mencoba sekalian mengajak sholat subuh berjamaah. Berawal dari keraguan bisa atau tidak mengajak sang anak dan akhirnya dengan IZIN ALLAH yang telah MELUNAKKAN hati sang anak mau ikut sholat subuh berjamaah bersama sang ayah. Selama sebulan full ini sang anak diupayakan melaksanakan sholat 5 waktu (include yang baru: subuh) tanpa terputus seharipun.
Dan Alhamdulillah akhirnya, hingga saat ini putra kami Hamzah mampu mendirikan sholat 5 waktu berjamaah, tepat waktu, di Masjid/Mushollah.
Dan sekali lagi semua itu bisa terjadi hanya dengan IZIN ALLAH, adapun semua ikhtiar yang saya share itu sebatas ikhtiar saja. Adapun hasil akhir yang saya dapat adalah MUTLAK di tangan ALLAH.
Setelah kami berhasil mengantarkan sang anak sholat 5 waktu, dalam perjalan kemudian kami serahkan pemeliharaan HATInya pada SANG PEMILIK hati anak kami yakni ALLAH.
Sekian sharing dari saya semoga bermanfaat.
Sebagai gambaran awal, ALHAMDULILLAH dan dengan izinnya anak kami Hamzah telah mampu menunaikan sholat 5 waktu secara berjamaah tanpa terputus 1 haripun dari hari keharinya hingga tulisan ini ditulis diusianya yang masih 6,5 tahunan. Jika dihitung dia sudah mampu melaksakannya selama 4 bulan penuh tanpa terputus seharipun. Kami beedoa semoga Allah menetapkan hatinya untuk membawa kebiasaan tersebut hingga akhir hayatnya dan mewariskannya kepada keturunan2nnya sebagaimana kami telah mengajarinya untuk mengenal ALLAH.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah "Apakah Hamzah secara instan langsung bisa dan mau melaksakan sholat 5 waktu dalam waktu singkat?" Jawabannya TIDAK. Ada beberapa proses yang kami lalui sehingga Allah berkenan melunakkan hatinya dan mau melaksanakan sholat. Lalu bagaimana dan apa saja ikhtiar yang telah kami lakukan?
Sebelum masuk pada ikhtiar2 yang telah kami lakukan yang mampu mengantarkan anak kami (Hamzah) mendirikan sholat, ada beberapa hal penting untuk diingat. Hal itu adalah:
1. Keberhasilan kami mendidik anak kami adalah MUTLAK atas IZIN ALLAH.
2. Usaha yang akan kami share bukanlah jalan satu2nya yang bisa mengantarkan anak bisa mendirikan sholat.
Baik kita masuk pada ikhtiar apa saja yang telah kami lakukan. Saya membaginya menjadi 2:
1. Tahap persiapan
2. Tahap proses pendidikan.
1. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan agar anak kita tunduk pada perintah ALLAH maka hal yang harus dilakukan adalaha. Berdoa kepada ALLAH agar dikaruniai anak yang sholeh/sholehah.
Siapa saja yang berdoa?
Sang Orang Tua
Mintalah pada Allah agar Dia menitipkan anak yang sholeh/sholehah pada diri kita. Berdoalah sesering mungkin dan jika perlu setiap hari, baik anak itu belum lahir, dalam kandungan, atau sudah lahir. Karena dengan doa semua bisa terjadi jika ALLAH sudah memperkenankan doa kita.
Orang Lain
Mintalah orang lain mendoakan diri kita. Jangan sekali-kali menganggap rendah seseorang karena kita tidak pernah tahu dari mulut siapa doa kita akan terkabul. Karena bisa jadi, orang yang kita anggap rendah justru dari mulutnya bisa jadi doa yang kita minta terkabul dan sebaliknya. Mintalah sebanyak mungkin pada orang yang tidak anda kenal sekalipun untun mendoakan anda.
Kapan waktu yang tepat?
Saya merekomendasikan INCAR bulan RAMADHAN untuk berdoa sekhusuk mungkin untuk permintaan ini. Ketika sudah dalam bulan Ramadhan mintalah pada waktu yang mustajabah yakni setelah SHOLAT TAHAJJUD. Lakukan sebanyak mungkin yang bisa anda lakukan dalam bulan Ramadhan syukur jika bisa melaksanakan sebulan penuh.
Untuk selain bulan Ramadhan lakukan hal yang sama seperti bulan Ramadhan. Meski tingkat intensitasnya mungkin akan meredup tidak seperti di bulan Ramadhan.
b. Hindari Makanan HARAM
Jangan sekali-kali anda mencoba memberikan nafkah dari jalan yang diHARAMkan ALLAH. Mengapa? Jawaban secara spiritual, makanan haram itu akan menghasilkan sel-sel yang akan memiliki kecondongan menentang perintah ALLAH. Sehingga ini akan menjadi GANJALAN BESAR ketika anda mengajarkan ketaatan pada ALLAH karena dalam tubuhnya banyak SEL-SEL HARAM yang reaksinya senantiasa menolak perintah2 tersebut.
Jika anda tidak mampu menghindar 100%, setidaknya TUNJUKKAN PENOLAKAN terhadap sesuatu yang diharamkan itu tidak layak untuk diterima. Jangan malah menunjukkan sikap MENIKMATI.
c. Kerja Sama yang Baik antara Suami-Istri
Buat ritme dan pemahaman yang sama dalam mendidik anak, jangan sampai memiliki pandangan yang berbeda antara pasangan suami-istri dalam mengajarkan anak atas perintah Allah.
Saya (suami) memainkan peran TEGAS terhadap anak, ketegasan saya bisa berujung pada pemukulan pada diri anak. Tapi jangan dibayangkan pemukulan yang saya lakukan dilakukan secara brutal dan tidak terarah. Konsep pemukulan ini saya belajar dari ortu saya dimana untuk memukul harus menggunakan benda (jika menggunakan benda) yang menyakiti secara fisik tapi tidak melukai atau tidak mengakibatkan cidera pada diri anak. Dan sasaran dari pemukulan itu bukan anggota tubuh yang vital seperti kepala, mata, telinga, kemaluan, dada, dll.
Terkesan sadis, tapi cukup efektif untuk jangka panjang. Dan sosok ayah yang TEGAS (berwibawa) harus tertangkap oleh anak, sehingga jika sang Ibu sudah diremehkan anak maka sang Ibu memiligi "bodyguard" untuk menghadapi sang anak. Jika anak tidak menangkap sosok ayah yang TEGAS, akibat jangka panjangnya adalah kedua orang tua tersebut akan diremehkan.
Meski tegas, membangun hubungan dengan keceriaan dengan anak harus lebih banyak porsinya.
Sedang Ibu, melaksanakan segala amanah yang dibebankan suami dalam mengurus anak di rumah. Pada pembahasan berikutnya peran Ibu penentu keberhasilan proses pendidikan yang sedang berlangsung.
2. Tahap Proses Pendidikan
a. Ketika dalam kandunganPerkenalkan lantunan/murotal Al Qur'an, jauhi teori2 yang mengatakan anak akan menjadi cerdas karena musik. Dalam hal ini tidak perlu diperdebatkan tentang teori2 musik untuk anak, karena dalam pandangan saya jika saya memperkenalkan musik sejak dalam kandungan itu artinya saya telah berinvestasi anak untuk menyukai musik. Dan sebaliknya jika saya memperdengarkan murotal Al Qur'an maka saya berinvestasi anak untuk menyukai AL Qur'an.
b. Sudah lahir
Tunaikan semua kewajiban yang diminta ALLAH mulai dari kumandang Azan dan Iqamah ditelinganya, memberi nama yang BAIK, dan Aqiqah dengan hewan terbaik bukan termurah (minimal sedang).
c. Pengasuhan (0-3 th)
Jika anda sibuk bekerja, jangan sembarangan menyerahkan anak anda pada sembarang orang. Pilih orang yang menegakkan sholat dalam rumahnya. Dalam keyakinan saya, ada perbedaan antara rumah yang penghuninya menegakkan sholat dengan tidak menegakkan sholat (saya tidak perlu menjelaskan perbedaan itu karena sudah cukup jelas). Sehingga dari perbedaan itu saya tidak ingin mempengaruhi anak kami selama dalam masa pengasuhan. Inilah yang kami lakukan, kami menyerahkan masa pengasuhan ketika kami bekerja (suami-istri) kepada keluarga yang penghuninya melaksanakan sholat. Sehingga meski masih bayi anak kami akan merekam bahwa lingkungan sekitarnya adalah orang2 yang gemar sholat.
Sebisa mungkin melantunkan ayat suci Al Qur'an di telingan anak bayi tersebut secara LIVE bukan rekaman mp3. Agar dengan bacaan tersebut Allah berkenan melunakkan hati anak kita nanti ketika tumbuh besar.
3. Pengasuhan 3-3,5 th
Trial n error diajak sholat ke Mushollah/Masjid. Pada fase ini intensitasnya tidak terlalu sering, hanya sesekali saja, tujuannya untuk memperkenalkan anak kepada tempat ibadahnya. Jangan khawatir jika anak anda akan berulah didalam Masjid dan jangan merasa malu (rendah diri). Karena fitrahnya anak diusia ini memang seperti itu. Bahkan jika ada jamaah lain yang protes atas tingkah laku anak kita yang kita ajak, ABAIKAN jangan diambil hati sehingga MENGECILKAN niat kita mendidik anak untuk sholat berjamaah.
Ikutkan pada acara-acara TAHLILAN, YASINAN, dll. Dan ajak makan dari makanan yang sudah dihidangkan karena makanan yang sudah didoakan Insya ALLAH membawa BERKAH pada diri anak. Jika anda anti Tahlilan ato Yasinan abaikan saran ini.
Catatan, jika anak masih belum bisa menahan pipis ato BAB ya ortu harus tau diri dengan melapisinya dengan popok bayi yang bisa menyerap itu.
4. Pengasuhan 3,5-4,5 th
Jika pada usia ini anak sudah mampu berkomunikasi secara sederhana daftarkan anak tersebut di TPQ yang bertempat di Mushollah/Masjid. Tujuan dari treatment ini bukan pada target agar anak bisa mengaji tapi lebih kepada tujuan jangka panjang akan dicapai yakni anak terbiasa sholat di Masjid/Mushollah.
Pada saat itu saya katakan pada istri untuk disampaikan kepada guru ngajinya. Bahwa kami tidak menuntut anak kami agar bisa mengaji pada usia ini, tapi biarkan (izinkan) anak kami mengaji di sini untuk bersosialisasi dengan teman2 kampungnya.
Kenapa target saya anak bersosialisasi dengan teman kampung? Karena dengan anak didaftarkan di TPQ Mushollah/Masjid, maka anak akan memiliki jadwal rutinitas untuk pergi ke Mushollah/Masjid. Karena kami tidak menuntut harus bisa ngaji maka si anak melakukannya dengan senang. Sehingga orientasi si anak bisa jadi ke Mushollah/Masjid hanya ingin bertemu dengan temannya. Pada fase ini si anak akan memiliki banyak teman yang sudah terlebih dahulu sering sholat di Mushollah.
Dan pada fase ini anak tidak dituntut untuk ikut sholat 5 waktu alias belum ikut sholat sama sekali.
5. Pengasuhan 4,5-5,5 th (Ramadhan 1)
Pada fase ini anak mulai diajak untuk mendirikan sholat satu saja dari 5 sholat wajib. Pada fase ini saya menjadi SAKSI bahwa BULAN TERBAIK untuk mendidik anak dalam hal ibadah adalah BULAN RAMADHAN. Apa yang disampaikan ulama tentang keutamaan bulan RAMADHAN adalah bulan madrasahnya umat Islam adalah BENAR.
Pada fase ini bulan Ramadhan awal pendidikan sholat anak saya sebut RAMADHAN 1. Pada Ramadhan 1 ini saya menargetkan hanya sholat Isya berjamaah. Kenapa? Karena pada bulan Ramadhan terdapat sholat tarawih dimana teman2 mengajinya juga banyak yang ikut tarawih sehingga relatif mudah mengajak anak untuk sholat isya' plus tarawihnya.
Selama bulan Ramadhan ini kita usahakan konsisten sebulan penuh menggembleng anak sholat Isya berjamaah tanpa putus. Nah disini peran Istri bermain, ketika sang ayah tidak bisa menemani anak untuk menunaikan sholat Isya berjamaah karena kesibukan kerja. Maka sang Istri yang berperan sebagai Ibu harus memastikan sang anak tetap melaksanakan sholat Isya tersebut dengan berbagai macam cara.
Jika terjadi ketidak konsistenan antara ayah dan ibu akan memberikan celah setan untuk menguasai diri anak agar tidak melaksanakan sholat tersebut. Jadi jika perlu tindakan tegas untuk memberikan penekanan kepada anak agar mau ikut sholat maka lakukanlah tanpa keraguan. Niatkan karena ALLAH bukan karena ingin menyakiti sang anak. Jika anak anda menangins atau merengek tidak mau ikut maka lakukan berbagai macam cara agar dia mau ikut, jangan hati anda luluh terhadap rengekan sang anak. Jika hati anda luluh maka selamanya sang anak akan menggunakan cara tersebut untuk menolak proses pendidikan yang akan anda terapkan pada anak.
Dalam Ramadhan 1 yang menjadi fokus utama adalah sholat Isya, untuk yang lain sifatnya tidak harus. Jika mau ikut diajak. Jika tidak mau ya tidak dipaksa, tapi khusus Isya sang anak diupayakan tidak terputus selama masa pendidikan di Ramadhan 1.
Masih pada rentang usia ini, selepas bulan Ramadhan jika anak sudah terbiasa sholat Isya berjamaah maka pertahankan di luar bulan Ramadhan. Dari Ramadhan 1 ke Ramadhan 2, pada bulan syawal pertahankan jangan sampai terputus kebiasaan yang sudah terbentuk di Ramadhan 1. Setelah melewati Syawal saya mencoba menambahkan sholat maghrib berjamaah. Berawal cob-coba, jika hatinya mau ikut maka lakukan sesering mungkin. Sehingga tanpa terasa dari Ramadhan 1 ke Ramadhan 2 anak sudah terbiasa sholat Isya dan Maghrib berjamaah tepat waktu di Masjid/Mushollah TANPA terputus seharipun.
Pada fase pembiasaan ini, kerja sama antara Ayah dan Ibu harus bisa saling bersinergi, terutama peran Ibu ketika sang ayah tidak di rumah. Sang ibu harus bisa menggantikan posisi sang ayah yakni memastikan sang anak tetap melaksanakan sholat. Dan apabila di tengah perjalanan pembiasaan sang anak mulai berani tidak mendirikan sholat maka sang Ibu harus segera mereport perilaku tersebut kepada sang ayah dan sang ayah harus merespon hari itu juga dengan memberikan teguran (nasihat tegas) kepada sang anak agar tidak mengulanginya lagi (perilaku tidak mau sholat).
6. Pengasuhan 5,5-6,5 (Ramadhan 2)
Secara garis besar step by step pada fase ini sama seperti fase Ramadhan 1 namun yang menjadi target adalah sholat Ashar. Kenapa sholat Ashar? Karena diwaktu itulah jam saya baru pulang dari kerja, jika anda punya waktu luang banyak bisa menargetkan sholat Dzuhur terlebih dahulu itu tidak masalah. Yang terpenting salah satu diantara keduanya tercapai. Kenapa tidak sholat subuh? Nanti dibahas di fase berikutnya.
Sekali lagi sama seperti step Ramadhan 1, selama di Ramadhan 2 diupayakan sholat Ashar full tidak terputus. Setelah di luar Ramadhan 2 yakni Syawal pastikan tidak terputus sholat Asharnya, setelah itu sambil menuju Ramadhan 3, sholat Dzuhur berjamaah juga menjadi target untuk dilaksanakan oleh sang anak tanpa putus.
Untuk pembiasaan sholat Dzuhur, saya memulainya dari sholat Jum'at. Jadi ketika ada waktu libur di hari Jum'at saya sempatkan mengajak sang anak untuk sholat jum'at. Setelah itu, karena kenal beberapa teman di masjid terkadang dia terbawa dengan sendirinya oleh arus teman2nya yang asyik sholat Jum'at di masjid meski di dalamnya lebih banyak bercandanya. Peran ortu mengingatkan agar tidak ikut2an ramai di masjid.
Setelah terbiasa sholat Jum'at, maka sang ayah meminta sang anak agar melaksanakan sholat dzuhur juga melalui pengawasan sang Ibu.
7. Pengasuhan 6,5 ++ (Ramadhan 3)
Fase ini adalah puncak dari pendidikan sholat, kenapa? Karena yang tersisa adalah sholat subuh berjamaah. Karena saya telah mendengar banyak keluhan anak2 baik dari teman sejawat maupun ortu wali murid saya yang kesulitan membiasakan putranya mendirikan sholat subuh ini.
Dan inilah kehebatan bulan Ramadhan, sekali lagi saya menjadi SAKSI akan KEBERKAHAN bulan suci RAMADHAN adalah BENAR. Memanfaatkan momen sahur, awalnya saya mencoba sekalian mengajak sholat subuh berjamaah. Berawal dari keraguan bisa atau tidak mengajak sang anak dan akhirnya dengan IZIN ALLAH yang telah MELUNAKKAN hati sang anak mau ikut sholat subuh berjamaah bersama sang ayah. Selama sebulan full ini sang anak diupayakan melaksanakan sholat 5 waktu (include yang baru: subuh) tanpa terputus seharipun.
Dan Alhamdulillah akhirnya, hingga saat ini putra kami Hamzah mampu mendirikan sholat 5 waktu berjamaah, tepat waktu, di Masjid/Mushollah.
Dan sekali lagi semua itu bisa terjadi hanya dengan IZIN ALLAH, adapun semua ikhtiar yang saya share itu sebatas ikhtiar saja. Adapun hasil akhir yang saya dapat adalah MUTLAK di tangan ALLAH.
Setelah kami berhasil mengantarkan sang anak sholat 5 waktu, dalam perjalan kemudian kami serahkan pemeliharaan HATInya pada SANG PEMILIK hati anak kami yakni ALLAH.
Sekian sharing dari saya semoga bermanfaat.
Comments
Post a Comment